Menurut Kantor Berita ABNA, Sementara itu, sanksi ekonomi AS terhadap beberapa negara terus menjadi penghalang utama akses ke vaksinasi dan obat-obatan yang dibutuhkan.
Sekaitan dengan hal ini, para wakil negara-negara di PBB menekankan dampak negatif sanksi AS terhadap sistem perawatan kesehatan internasional, terutama di beberapa negara yang terkena dampak wabah Corona.
Para delegasi ini mengumumkan dalam pertemuan virtual, sanksi ekonomi AS menjadi penyebab utama pelanggaran hak asasi manusia selama pandemi Corona. Karena sanksi menghambat akses negara-negara ke teknologi, sistem perawatan kesehatan terkini, dan bantuan kemanusiaan yang diperlukan untuk mendukung infrastruktur global.
Amerika Serikat adalah negara pemberi sanksi terbesar di dunia, dengan sejarah terlama dalam menjatuhkan sanksi kepada negara lain sesuai dengan tujuan dan kepentingannya.
- Baca juga: Jokowi: Negara Kaya 83 dan Miskin 17 Persen Terima Pasokan Vaksin
Sanksi-sanksi yang dijatuhkan dengan berbagai dalih politik, termasuk pelanggaran HAM, terhadap berbagai negara, termasuk Iran, Rusia, Venezuela, Cina, Kuba, dan beberapa negara lainnya. Sanksi itu menyebabkan akses negara-negara tersebut ke berbagai pasar dunia, bahkan untuk pasokan, peralatan medis dan obat menghadapi kendala.
Bahkan pada saat pandemi virus Corona global yang merupakan situasi paling mengerikan bagi semua negara, terutama di negara-negara berkembang secara ekonomi, medis, dan kesehatan, Washington masih mengejar kebijakan sanksinya dengan kekuatan penuh.
Setelah perubahan politik dalam negeri dan penggantian Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat, serta permintaan lembaga dan organisasi internasional untuk mencabut sanksi tersebut, tidak menyebabkan Amerika Serikat mengubah kebijakan sanksinya. Sementara itu, karena sanksi tersebut, banyak negara yang belum mampu menyediakan obat, vaksin, dan peralatan medis yang dibutuhkan selama periode tersebut.
Meskipun tekanan internasional telah membuat para pejabat AS berulang kali mengklaim bahwa sanksi tidak mencakup sektor obat-obatan dan makanan, tapi dalam praktiknya sanksi ini membuat akses menjadi sulit. Karenanya, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif telah berulang kali memperingatkan agar tidak menjatuhkan sanksi.
"Jika aset Venezuela tidak dibekukan di luar negeri, kami dapat dengan cepat menerima 30 juta dosis vaksin Corona yang kami butuhkan," kata Menteri Luar Negeri Venezuela Jorge Arreaza.
Menurut Zarif, "Sanksi AS adalah sanksi paling tidak manusiawi dalam sejarah dunia. Mereka mengklaim bahwa sanksi tidak termasuk makanan dan obat-obatan, tetapi tidak ada bank yang bersedia mentransfer uang untuk membeli makanan dan obat-obatan. Uang kami diblokir di beberapa negara. Kita tidak bisa membeli makanan dan obat-obatan dengan uang kita sendiri."
"Jika aset Venezuela tidak dibekukan di luar negeri, kami dapat dengan cepat menerima 30 juta dosis vaksin Corona yang kami butuhkan," kata Menteri Luar Negeri Venezuela Jorge Arreaza, seraya mencatat bahwa sanksi ekonomi AS mencegah Caracas mendapatkan akses ke vaksin Corona.
Kematian dan kerusakan akibat Corona tetap tinggi di negara-negara yang terkena sanksi karena ketidakmampuan untuk membeli vaksin secara ekstensif. Faktanya, banyak warga negara-negara ini yang menjadi korban tidak langsung dari sanksi, yang tidak hanya membuat proses vaksinasi memakan waktu dan sulit, tetapi juga mempersulit untuk mendapatkan obat dan menyebabkan banyak kematian.
- Baca juga: Pandemi Corona, Ciptakan Perubahan Gaya Hidup Manusia
Selain terkait masalah corona, dalam banyak kasus, beragam penyakit khusus juga mendapat masalah yang sama. Banyak penyakit yang sulit disembuhkan semakin sulit diatasi akibat masalah yang bersumber dari sanksi atas negara-negara ini, termasuk Iran.
"Sanksi AS yang diumumkan dalam keadaan darurat itu ternyata mencakup berbagai pelanggaran hak asasi manusia luas di Cina, Kuba, Haiti, Iran, Nikaragua, Federasi Rusia, Suriah, Venezuela dan negara-negara dunia lainnya," kata Pelapor Khusus PBB Alena Douhann.
Amerika Serikat dan sekutunya melakukan kejahatan terbesar dengan alat bernama sanksi. Mereka telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan di banyak negara di bawah sanksi dengan terorisme obat-obatan.
Ketika mereka selalu membanggakan akses yang adil dan hak asasi manusia, pada saat yang sama, mereka telah menjatuhkan sanksi banyak negara bahkan di bawah dalih melanggar hak asasi manusia. Sementara berbagai bukti menunjukkan bahwa justru mereka adalah pelanggar hak asasi manusia terbesar.
342/